Menjual Diri Sepanjang Waktu

Sofie Beatrix
Disadari atau tidak, semua orang melakukannya setiap hari, bahkan setiap detik untuk “menjual” dirinya sendiri. Seorang suami harus menjual diri supaya istrinya tetap cinta kepadanya dengan cara memberikan rayuan-rayuan manis, bekerja keras membiayai kehidupan keluarga, berbaik hati dengan pihak keluarga sang istri. Sebaliknya sang istri menjual diinya agar tetap cantik, mempesona hati suami dengan full service, hebat dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anak. Seorang karyawati yang ingin menjual dirinya di hadapan bos harus selalu menunjukkan kinerja dan prestasi yang spektakuler.

Secara naluriah, setiap orang akan memasarkan dirinya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Masalahnya di sini, jualan itu ada yng laris, ada yang tidak laku. Pembeli atau pelanggan kita berhak untuk menentukan akan memborong semua yang kita jajakan; memilih beberapa saja atau tidak sama sekali. Yah, pembeli itu raja, katanya. Maka sebagai penjual apa yang bisa dilakukan agar jualannya dapat laris manis alias bisa mendapatkan balasan yang sesuai dengan keinginan?

Pertama, paradigma yang harus ditanamkan adalah: kita ini penjual, mereka adalah pembeli. Pembeli adalah raja. Walaupun pembelinya cerewet, suka menawar-nawar atau diam saja, penjual harus tetap aktif menjajakn  dengan sepenuh hati. Artinya, bersiaplah menghadapi respon yang paling pahit sekalipun dengan lapang dada dn usaha yang kontinyu.

Kedua, terus menerus memperbaiki kualitas jualan. Kalau toh harus berguru, dijalani saja. Para pakar jualan saat ini sudah banyak ditemukan dan siap membimbing. Contohnya bila Anda ingin menjadi ibu yang baik, tinggal ikuti saja perguruan parenting yang bisa melahirkan ibu-ibu hebat.
Ketiga, kadang-kadang penjual harus survei sendiri ke kustomernya, sebenarnya barang dagangannya ini disukai tidak ya? Apa kekurangannya dan apa kelebihannya? Otomatis, barang yang kita jual bisa customize, artinya sangat sesuai dengan keinginan pelanggan. Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian, terhadap orang-orang di sekeliling kita, mintalah pendapat tentang apa yang mereka butuhkan dari Anda, apa yang harus Anda perbaiki agar mereka senang. Kalau saat mreka curhat, kita banyak-banyak membuka telinga dan hati, serta menahan diri untuk membantahnya. Ingat, ini demi jualan kita laris manis.

Terakhir, tahu saat-saat yang tepat untuk menjual. Bagaimanapun, penjual itu juga harus punya ilmu kebathinan. Maksudnya, ilmu batin untuk melihat apakah ini saat berjualan atau saat hanya promosi dan barang apa yang dijual saat itu. Misalnya, ketika anak pulang sekolah dengan wajah lelah dan muram, sedangkan kita ingin menjual diri sebagai ibu yang baik akan dalam memberikan kasih sayang pada anak. Cara yang kita pilih bisa bermacam-macam, bisa membiarkannya, menyapa atau  menyuruh kepadanya untuk bergegas membantu pergi ke toko depan rumah membeli sesuatu. Akan tetapi, sebagai seorang yang ingin terjual produk kasih sayangnya, melihat situasi yang terjadi, buatkanlah ia segelas teh hangat sambil mengajaknya ngobrol dan bercanda, menanyakan apa saja yang dialaminya hari itu. Setelah suasana dirasa nyaman, silahkan melakukan eksekusi lainnya.

Dengan empat hal tersebut, anda bisa mulai berjualan dan insya allah laris manis. Sementara ini, ide saya tentang tips menjual diri dibatas sama Allah sampai disini, kalau anda punya tips  tambahan lainnya agar laris manis, boleh anda tambahkan sendiri.
Tags :
Previous article
Next article

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel